Hobi Mancing Ikan
CURRENT MOON

Friday, November 7, 2008

Saat batal ke Merak, oleh : Cien

Ada bocoran, dua hari lalu di Suralaya Merak baronang sedang galak. Kasar-kasar lagi. Kecuali baronang susu yang Cuma 4-5 jari, selebihnya baronang lada 8 jari serta tompel dan batik 7 jari. Info begini, meski belum tentu benar, jelas menggetarkan sanubari setiap pemancing baronang.

Pukul lima pas. Tapi Dimas belum datang juga. Sontoloyo! Sesuai perjanjian seharusnya kawan baik ini sudah muncul sejam lalu. Repotnya saya juga tak mungkin pergi sendiri. Selain agak riskan, Dimas juga telanjur janji mau bawa umpan lumut. Mancing baronang di Merak tanpa bawa lumut, sama juga bohong.

Hati yang sudah ngebet ingin cepat mancing jadi serba bimbang. Tapi sudah kadung bangun subuh, biarpun sudah kesiangan, akhirnya saya putuskan untuk tetap pergi. Bukan ke Merak, melainkan ke Tanjung Pasir di Tangerang.

Cakrawala yang sudah benderang membuat saya tak sempat lagi mencari lumut. Setelah membeli dua bungkus nasi di warung tegal, saya buru-buru menyewa perahu nelayan untuk mengantar ke Pulau Untung Jawa.

Pulau Untung Jawa letaknya berdampingan dengan Pulau Rambut di barat dan Pulau Bokor di barat laut. Di penghujung November ini, sejauh mata memandang cakrawala tampak begitu jernih. Pulau Lancang dan Pulau Pari yang biasanya samar-samar juga terlihat jelas. Mungkin derasnya hujan pada awal musim angin barat telah menyapu bersih kabut laut yang biasa menghalangi pandangan.

Hampir setengah jam berlalu, tapi Untung Jawa masih tetap terlihat jauh. “Ini sudah full speed”, kata tukang perahu. “Tuh knalpotnya sampai ngebul banget”. Kelihatan tukang perahu agak kesal karena saya terus meminta dia menambah kecepatan. Saya memang geregetan. Kuping seolah tuli dan hidung pun geremetan akibat getar mesin diesel yang berisiknya bukan main, tapi pulau yang dituju tidak kelihatan semakin dekat. Saking tak sabar, saat haluan belum mencapai dermaga timur pulau, saya sudah langsung melompat turun ke air.

Di dermaga sudah ada tiga pemancing casting dan seorang pemancing baronang. Jelas kelihatan dari joran tegeg dan pelampungnya yang tergantung di atas permukaan. Supaya tidak timbul rivalitas, saya harus menyapanya lebih dulu.

“Rame, nih. Sudah naik banyak pak?”, saya mencoba berbasa-basi. “Huu payah! Dari tadi arusnya kenceng banget!”, gerutunya tanpa menoleh. Tapi saya lihat korang di sisi dermaga sudah terisi. Satu baronang tompel lima jari dan tiga lagi baronang susu empat jari. Wah, telat. Gara-gara Dimas.

Setelah berkenalan, saya tahu pemancing dari Serpong ini bernama pak Iman. Sudah tiga bulan selalu mancing di tempat yang sama. Kata beliau hasilnya oke. Umpannye lumut batere. Bila saya terperangah melihat pancingnya yang besar, ia justru tampak ragu melihat pancing garong saya yang cuma sekuku ibujari. Saking baik hati, ia malah sempat menawarkan pancing garongnya, yang kontan saya tolak secara halus.

Pak Iman duduk menghadap timur menantang langsung matahari fajar. Saya di sisi kanannya menghadap tenggara. Masuk musim angin barat, arus memang datang dari timur. Berarti pagi ini laut sedang bergerak menuju puncak pasang naik. Permukaan air ngopyak, berombak riak sedang. Air biru gelap dan berangin semilir. Begitu umpan dilempar, memang benar langsung melayang terseret arus. Terpaksa lemparan diulang lebih jauh melawan arus. Agak susah mancing dengan kenur mengsong begini. Pengalaman terdahulu, pancing akan sering meleset kala disentak.

Gebrakan pertama muncul pada lemparan keenam. Umpan baru turun setengah air. Benang juga belum tegang dan masih meliuk-liuk diterpa angin. Tapi naluri tidak tertipu dan memang sangat kasat mata, umpan sedang ditanggap baronang. Pelampung bergerak zigzag dan kenur bergerak tenggelam secara tidak wajar. Mengingat posisi kenur yang miring, joran tidak boleh disentak dulu. Biarkan ikan merasa mantap menyosor umpan. Sedetik tali menegang, tanpa ampun joran langsung disentak.

Bukan terangkat, joran malah melengkung hebat dan terasa bak dibebani batu besar. Sampai nyungsep, istilah pemancing baronang. Pelampung pun langsung lenyap ditelan air.

Ikan melesat kekiri, gagal. Ke kanan juga gagal. Saat itulah kenur berdesing menyayat permukaan air. Berikutnya ikan lari melingkar ke arah luar, namun sambil terus bertahan di kedalaman. Beberapa detik kemudian menyerah juga dia.

Dari atas, kelihatan seperti sebuah piring keramik sedang melayang di bawah permukaan air. Tompel tujuh jari, atau lebih kalau dihitung dengan duri sirip dan punggung dan perutnya yang menantang. Pak Iman geleng kepala melihat ikan tergantung di pancing garong segede kuku.

Lima belas menit kedepan pasaran berubah sepi. Angin kian kencang sementara arus belum mengendur. Mata terasa payah melihat pelampung yang terus bergoyang diterpa angin. Kami mengobrol sambil berusaha tetap menatap pelampung. Saat begini biasanya pemancing sering kecolongan. Dan ini benar-benar terjadi.

Dua kali sudah lumut pak Iman cepak dicukur gigi baronang yang selalu diganti lumut baru, tentu sembari mengumpat. Karena sewot, kini dia bolak-balik menyentak joran sampai bunyinya mendengung, tapi tak ada ikan yang tersangkut. Sungguh bikin tetangga jadi stres. Pasalnya saya tak merasa umpan disentuh ikan. Saat saya coba angkat, utuh kok.

Waktu saya perhatikan, rupanya joran pak Iman terlalu lembek. Kurang pas untuk gerak cepat di air dalam. Oleh pancing garong yang besar saja ujung jorannya sudah tampak terbebani, belum lagi umpan lumut dan tekanan air. Pantas sentakan pancing garong selalu telat dan baronang sanggup melengos. Saya duga, barangkali ikan yang sempat kena sebelumnya Cuma pas lagi meleng.

Pada suatu kesempatan saya menyentak joran perlahan sekali. Bukan karena ada ikan, tapi untuk membuyarkan umpan nasi di pancing saja. Sambil berharap ikan yang mencuri umpan pak Iman mau beringsut ke depan saya. Tentu sama sekali tidak etis jika saya menebar bom nasi saat pemancing di sebelah berkali-kali menyentak joran tanpa hasil. Iba juga hati ini, sebab rasanya beliau tidak “ngeh” akan hal ini.

Begitu umpan pasangan baru tenggelam, saya menahan napas melihat atraksi gila pelampung. Gerakan turun naiknya segesit jarum mesin jahit! Saya menahan diri untuk tidak buru-buru menyentak joran. Saat umpan menyentuh dasar dan pelampung makin kelojotan, “Japp!”.

Sepersekian detik joran stagnan. Sentakan tidak otomatis memboyong ikan naik, tetapi juga tidak ada betotan pertanda ikan melawan. Saya duga, ikan terkejut saat pancing garong membekap mulut, namun ia juga sulit bergerak karena posisinya sedang nungging di dasar.

Detik berikutnya perut jadi mulas. Pelampung amblas karena ikan menarik kenur kuat-kuat dengan terus main bawah. Ia tidak manuver kesana kemari seperti tompel semula, tetapi terus bertahan di bawah sambil zigzag, yang menyebabkan joran ikut bergerakmanggut-manggut.

Berbahaya! Cuma ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama ikan lepas karena bibirnya sobek, berikutnya kenur yang halus itu putus di simpul. Kemungkinan pertama agak sulit, sebab ukuran pancing garong yang kecil biasanya membuat dua pancing menancap bersamaan. Situasinya sungguh serba tidak menguntungkan. Dipaksa naik takut kenur jebol, dibiarkan terus juga tidak aman.

Susah payah saya berusaha bangun dari duduk. Namun begitu bisa berdiri, sekonyong-konyong joran menjadi ringan. Kenur putus di simpul pancing. Seketika pak Iman terkekeh-kekeh sambil mengomentari mengapa joran tidak buru-buru diangkat. “Ikannya kasar tuh!” ujarnya memanasi.

Beberapa jam kedepan tidak ada tarikan yang istimewa. Paling yang naik baronang susu atau tompel kecil-kecil. Waktunya pun sporadis. Naik satu-dua ekor, terus sepi lagi. Kadangkala pelampung bergetar halus, tapi begitu disentak ada si tompel. Di lain kesempatan pelampung bergetar kesetanan, namun sewaktu disentak malah kosong atau naik baronang susu empat jari.

Pukul 11.00 arus sudah reda. Semestinya enak mancing dengan kenur agak tegak, tapi ikan juga ikut menghilang. Sinar matahari memang mulai menembus ke dalam air dan menampakkan bayangan bebatuan di dasar laut.

Saya tinggalkan pak Iman untuk mengisi perut di warung di tepi pantai. Ia sendiri memilih menyantap bekal di tempat. Katanya tidak tega meninggalkan dermaga. Padahal berkata jujur mau mencuri kesempatan juga tak jadi soal.

Saat saya kembali, permukaan laut sudah seperti kolam. Arus mati dan angin pun tak ada. Dimana-mana air tampak sangat bening. Namun yang paling tragis, tak satu ikan pun terlihat di antara bebatuan. Akhirnya saya Cuma menemani pak Iman yang tetap rajin menyentak joran, meskipun selalu tanpa hasil. Mungkin terik matahari telah membuat efek halusinasi. Asal pelampung bergeser sedikit saja joran pasti kontan disentak.

Semakin siang bukan semakin baik. Air yang surut membuat perairan menjadi dangkal dan kian bening. Ini pertanda harus stop mancing. Saya hitung ikan di box ada 22 ekor, sepuluh tompel dan sisanya baronang susu. Lima tompel diantaranya terbilang cukup gede, sekitar enam-tujuh jari. Saat itu saya ingin segera pulang dan pamer hasil mancing setengah hari ini ke Dimas.

source : (Majalah Trip & Trick Edisi 1 / Maret 2002)

No comments: