Hobi Mancing Ikan
CURRENT MOON

Wednesday, December 17, 2008

Mancing Ber-SIM Ala Brandenburg, by Hidayatullah.com

Mancing Ber-SIM Ala Brandenburg
Sunday, 02 November 2008 09:50


Berlin punya cara tersendiri untuk melestarikan alamnya agar tetap terjaga dengan indah. Bandingkan dengan Indonesia di mana banyaknya kerusakan lingkungan dan sungai-sungai yang kotor


Hidayatullah.com--Bila matahari bersinar, maka hanya sekitar empat puluh menit pejalanan dari lokasi tembok Berlin yang terkenal di Jerman. Wisata alam yang diminati adalah alam Brandenburg.

Brandenburg di Jerman terkenal dengan negeri ribuan danau. Tidak lain karena di negara bagian ini memiliki lebih dari 3000 danau dan puluhan sungai-sungai besar. Sebuah danau di Brandenburg, misalkan, memiliki luas lebih dari 1 hektar. Keindahannya dan kejernihan airnya mengingatkan kita betapa Allah SWT menciptakan fasilitas kita hidup begitu indah. Bagi orang Jerman, mereka gunakan keagungan Allah ini dengan rekreasi dan olahraga air, semisal perahu, boot, dan juga dayung.

Yang tak kalah menggoda adalah danau-danau dan sungai-sungai ini adalah tempat hidup ikan dalam jumlah tak terhingga.

Keindahan alam Brandenburg ini pernah digambarkan oleh seorang sastrawan ternama:



Man muss nicht unbedingt um die halbe Welt jetten,

um grandiose Landschaften zu erleben.

Auch unsere Heimat steckt voller Urlaubs├╝berraschungen)

(Seseorang tidak perlu mengelingi separuh dunia hanya untuk menikmati pemandangan alam. Cukup kampung kita saja sudah penuh kejutan-kejutan untuk menikmati liburan).

Perlu SIM


Tapi, bagi anda yang belum faham peraturan di Jerman, jangan coba-coba sembarangan mancing di sungai atau danau di Jerman. Karena hanya orang yang punya “Fischereischein“ (semacam surat ijin mancing) sajalah yang boleh melakukan hobi ini.

SIM untuk memancing ini diperoleh setelah mengikuti ujian. Sebelum ujian, pendaftar SIM mancing ini harus mengikut Lehrgang (penataran) selama dua hari penuh yang berisi bukan hanya teknik mancing, tapi juga mengenai bagaimana menjaga keindahan dan kelestarian alam melalui mancing.

Soal ujian berkisar tentang jenis ikan yang boleh ditangkap, penanganan hasil pancing, jenis kail, pancing dan umpan (umpan alami vs umpan buatan), pengetahuan lingkungan, hukum-hukum perairan dan risiko pelanggarannya, dan lain sebagainya.

Tidak tanggung-tanggung, ancaman bagi yang ketangkap basah mancing tanpa SIM ini, maka dendanya menurut Fischreigesetz (undang-undang perikanan) hingga 50 ribu euro (sekitar 600 juta rupiah)!

Larangan-larangan meliputi jenis ikan tertentu yang boleh diambil di musim tertentu, panjang minimal ikan tertentu yang boleh dipancing, berapa pancing yang boleh dipakai dan jenis kail, lokasi tempat pemancingan, dan lain sebagainya.


Misalkan, ada ikan yang hanya boleh diambil minimal panjangnya 30 cm, 40 cm atau 50 cm, dan ada ikan-ikan tersebut boleh ditangkap tergantung di kota/daerah kita mendaftarkan ijin mancing kita.

Ikan-ikan yang sering kami ambil misalkan Blei/Brasse (Abramis sapa), Karpfen (Cyprinus carpio L), Rotauge (Rutilus rutilus), Rotfeder (Scardinius erythrophthalmus), Hecht (Esox lucius) dan Zander (Sander lucioperca).


Meski demikian, peraturan ini berjalan sangat efektif dan mendorong kesadaran masyarakat untuk memelihara sungai dan danau yang semua terpelihara dengan baik di seluruh Jerman. Airnya jernih, dan ikannya besar-besar. Bandingkanlah dengan di tempat kita, Indonesia. Jauh tebalik.

Hikmah

Bila kita menghayati Al-Quran, maka kita menikmati bagaimana Allah menceritakan gambaran syurga dengan “tajriy min tahtihal anhaar”, surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Allah juga berfirman, bahwa di dalam syurga ada sungai bermacam-macam warna dan rasa.

Seyogyanya alam kita pun dijadikan Allah indah. Tapi tangan manusia yang jahil, merusak semua gambaran keindahan tersebut. Kita muslim Indonesia seperti memendam malu luar biasa bila membandingkan sungai dan danau di Brandenburg dengan kali Ciliwung.

Jangankan untuk mampu menggambarkan keindahan syurga dalam alam spiritual Muslim, justru yang ada adalah gambaran “hitam”, identik dengan kesuraman dan kebodohan kita sebagai Muslim dalam mengelola titipan Allah pada makhluknya.

Tapi kegaguman Brandenburg semacam “tafakkur” alam. Yang tidak lain sebagai ekspresi seorang warga Indonesia yang merindukan keasrian alam. Setidanya, penulis bermimpi bahwa kali Ciliwung suatu saat bisa lebih indah dari kali Glienike, tempat kami mempererat ukhuwah di bulan Syawal tahun ini. [Suhendra, pengurus Masjid Al Falah. Kini bekerja sebagai peneliti lembaga nasional pemerintah Jerman di Berlin]


Foto (1) hasil tangkapan dengan latar belakang jembatan Glinicke yang bersejarah. Ikan sekecil ini harus dikembalikan lagi ke sungai. Foto (2) menunaikan ibadah lebih khusyu dengan alam yang luar biasa indah.

No comments: