Hobi Mancing Ikan
CURRENT MOON

Saturday, February 21, 2009

Sejutaan Ikan Mati di Pantai Tabanan Bali

Kamis, 01/02/2007 15:26 WIB
Gede Suardana - detikNews
Denpasar - Sekitar 1 juta ekor ikan mati di sepanjang pantai di Kabupaten Tabanan, Bali. Kematian massal ikan-ikan ini diduga akibat fenomena alam yang disebut red tide.

Ikan-ikan tersebut mati sejak 10 hari yang lalu. Namun kematian dalam jumlah besar baru terjadi 2 hari belakangan ini. Bangkai ikan-ikan tersebut terdampar di sepanjang pantai Nyali dan Selabih, sejauh hampir 40 km.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali, Ida Bagus Putu Wisnawa mengatakan, ikan-ikan ini mati bukan karena ulah manusia seperti diracun dan sebagainya. Menurut Wisnawa, ikan-ikan ini mati akibat fenomena alam yang disebut red tide.

"Red tide muncul sekitar 6 bulan atau 1 tahun sekali pasca badai El Nino," kata Wisnawa di kantornya Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Kamis (2/2/2007).

Wisnawa menjelaskan, El Nino yang terjadi pada Juni 2006 lalu telah menyebabkan air laut bergerak dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia melalui Selat Bali. Namun di Selat Bali, arus yang bergerak dari Samudera Pasifik ini bertabrakan dengan arus dari Samudera Hindia.

Hal ini menimbulkan pergolakan air laut yang memicu munculnya plankton-plankton yang biasa menjadi santapan ikan dalam jumlah besar. Namun pasca El Nino, plankton-plankton ini mati dan menumpuk di dasar laut.

Kematian plankton-plankton ini menyebabkan munculnya organisme baru yang kemudian tumbuh menjadi plankton baru dari keluarga dinoflagelata. Plankton inilah yang mengeluarkan toksin dan menyebabkan air laut berwarna kuning keemasan (red tide).

"Setiap ikan yang memakan maupun yang melintas di areal red tide akan mati. Tidak hanya yang di permukaan tapi juga yang di dasar laut. Red tide ini mengelompok seperti kumpulan minyak," ujar Wisnawa.

Jenis ikan yang mati antara lain lobster, penyu kecil, kakap, tongkol, lemburu dan layang. Menurut Wisnawa, masyarakat diminta tidak memakan ikan-ikan yang mati akibat red tide.

"Jika disantap, ikan-ikan ini bisa menimbulkan berbagai gejala gangguan kesehatan seperti diare. Kalau pada tingkat yang parah bisa menyebabkan kematian," ujar Wisnawa.

Wisnawa menambahkan, fenomena red tide ini bukan baru kali ini terjadi. Sebelumnya sudah pernah terjadi di sejumlah tempat seperti Sulawesi, Kalimantan Timur, termasuk di mancanegara seperti Peru dan Cili.

Siklus red tide sendiri terjadi sekitar 4 hingga 5 tahun sekali. Fenomen red tide sebelumnya tercatat terjadi pada tahun 1994, 1998, dan 2203. (djo/nrl)

1 comment:

mancing gembira said...

sayang banget tuh ribuan ikan mati begitu aja
karena alam ato karena ulah manusia, yang pasti mengotori keindahan pantai.